Praktikum Kristalisasi
ESSAY
Tema: Penerapan Kristalisasi dalam Industri Pangan
Untuk Garam yang
Telah Hadir dan Melengkapi Rasa di Tiap Hariku
Indonesia
terkenal akan kepulauannya yang luas dan hamparan pesisir laut yang panjang.
Luapan laut yang begitu luas terkenal akan kandungan garamnya. Garam merupakan
komoditas strategis yang penggunaanya sangat luas untuk konsumsi rumah tangga,
sehingga diperlukan sebagai penopang proses produksi di industry aneka pangan.
Garam tentunya
dalam kehidupan melengkapi rasa yang dikonsumsi setip harinya dengan khas asin.
Untuk beberapa orang tentunya memiliki indera perasa atau taste buds yang cukup sensitif terhadap jumlah kecil garam yang
ditambahkan dalam makanannya. Sehingga tak menutup kemungkinan selera tiap
orang berbeda-beda pula. Proses pembuatan garam pada umumnya di Indonesia
dilakukan dengan metode penguapan air laut dengan bantuan sinar matahari karena
Indonesia masuk dalam negara yang hanya memiliki 2 musim, yakni musim hujan dan
musim panas. Dengan hal ini, potensi yang dimiliki tidak diimbangi dengan
peningkatan jumlah dan mutu produksi garam di Indonesia.
Produk
garam menurut beberapa penelitian, masih banyak pabrik garam yang menghasilkan
kualitas produk rendah. Hal ini dilihat dari tidak memenuhinya syarat serta
sistem pengelolaan pabrik yang kurang. Kualitas garam yang dikelola secara tradisional biasanya
akan diolah untuk dijadikan garam konsumsi sebagai garam industri.
Pembuatan
garam dapat dilakukan dengan beberapa metode berdasarkan perbedaan andungan
NaCl sebagai sumber utama garam. Pertama, penguapan dengan tenaga sinar
matahari di lading pembuatan garam. Kedua penguapan dengan tenaga panas bahan
bakar dalam larutan evaporator dan
kristalisasi garamnya dalam suatu crystalizer.
Ketiga, pemisahan elektrokimia larutan garam dengan proses elektrolisa kemudian
kristalisasi dengan crystalizer.
Kristalisasi adalah suatu proses pemisahan partikel zat padat yang terlarut
dalam suatu larutan sehingga terbentuk kristal atau suatu cara memisahkan zat
padat dari sebuah komponen lain penyusun campurannya secara homogen.
Berdasarkan
pemanfaatannya, garam terbagi atas garam konsumsi dan garam industry. Garam
konsumsi terbagi atas garam meja dan garam dapur. Perbedaan keduanya terletak
pada kadar NaCl-nya dan spesifikasi mutu. Kualitas garam yang dikelola secara
tradisional pada umumnya diolah kembali untuk dijadikan garam konsumsi maupupn
garam industri. Meskipun Indonesia termasuk negara maritime, namun usaha
meningkatkan produksi garam belum diminati, termasuk usaha meningkatkan kuantitasnya.
Hal ini disebabkan terbatasnya teknologi pengolahan garam yang dimiliki
sehingga disisi lain, kebutuhan garam dengan kualitas tinggi dari tahun ke
tahun semakin meningkat.
Oleh
karena itu diperlukan solusi untuk menghadapi situasi yang tidak diinginkan
tersebut, antara lain: (1) Meningkatkan kualitas garam hasil panen petani
tradisional melalui pemurnian garam dengan metode pencucian dan rekristalisasi,
(2) Merancang seperangkat alat pemurnian garam, (3) Meningkatkan jumlah
produksi garam dengan memberikan sosialisasi kepada petani garam agar
memanfaatkan lahan secara optimal untuk memproduksi garam, (4) Meningkatkan
harga jual garam produksi petani melalui peningkaan kualitas gara menjadi garam
industry sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), (5) Penjaminan mutu
dan kualitas produk garam, dengan melakukan sistem Quality Control(QC) secara berkala sebagai program tindak lanjut.
Rekristalisasi merupakan metode atau
teknik pemurnian suatu zat setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) tertentu. Ada beberapa
persyaratan agar suatu pelarut dapat digunakan dalam proses rekristalisasi
yaitu memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang
dimurnikan dengan zat pengotor, tidak meningglakan pengotor pada kristal dan
mudah dipisahkan dari kristalnya.
Penelitian
tentang pembuatan garam industry yang sesuai SNI telah dilakukan, antara lain
rekayasa alat purifikasi garam rakyat menjadi garam industry dengan metode
pencucian. Secara keseluruhan diperoleh hasil perbaikan kualitas garam dari
garam krosok atau garam rakyat menjadi garam murni dengan metode pencucian
didaptkan konsentrasi NaCl mengalami peningkatan rata-rata . metode pencucian
garam hanya mencuci garam dengan larutan yang bersih sehingga impuritas di
permukaan garam krosok dapat terpisah.
Namun untuk
mendapatkan garam industry dari garam krosok tidak diperoleh hanya dengan jalan
pencucian garam saja. Jal ini karena impuritas pada garam krosok ada di dalam
kisi kristal garam bukan hanya pada permukaan kristal garam saja, sehingga
perlu dilakuakn pemurnian garam krosok dengan jalan rekristalisasi. Prinsip
dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang akan
dimurnikan dengan kelarutan zat pencampur atau pencemarnya. Larutan yang
terbentuk dipisahkan satu sama lain, kemudian larutan zat yang siinginkan
dikristalkan dengan cara menjenuhkannya (mencapai kondisi supersaturasi atau
larutan lewat jenuh. Secara teoritis da 4 metoda untuk menciptakan
supersaturasi dengna mengubah temperatur, menguapkan solven, reaksi kimia, dan mengubah komposisi solven.
SUMBER:
Dinnur I dan M
Efendy. 2020. Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) dalam Produksi Garam
Konsumsi Beryodium di UKM Brondong Lamongan. Juvenil Volume 1(1): Halaman 1-8.
Universitas Trunojoyo Madura. Madura.
Marihati A, M
Soengkawati, S Kartasanjaya, T Sayekti. 2001. Rekayasa Alat Purifikasi Garam
Rakyat pada Industri Kecil dan Menengah Untuk Konsumsi Garam Industri Pangan.
Semarang.
Rositawati AL,
CM Taslim dan D Soetrisnanto. 2013.Rekristlisasi Garam Rakyat dari Daerah Demak
Untuk Mencapai SNI Garam Industri. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. Volume
2(4): 217-225. Universitas Diponegoro. Tembalang. Semarang.
Wiraningtyas A,
A Sandi, Sowanto, Ruslan. 2017. Peningkatan Kualitas Garam Menjadi Garam Industri
di Desa Sanolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Jurnal Karya Abdi Masyarakat.
Volume 1(2); 139-145. e-ISSN; 2580-2178. LPPM Universits Jambi. Jambi.
Komentar
Posting Komentar